PUTUSAN

Posted: November 1, 2011 in File Hukum

A. SUSUNAN DAN ISI PUTUSAN

–  Putusan hakim terdiri atas 4 bagian yaitu :

a. kepala putusan

Dengan irah-irah yang berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan KeTuhananYang Maha Esa “.Irah-irah ini harus selalu di cantumkan pada setiap kepala putusan hakim, dengan konsekuensi jika tidak di cantumkan maka putusan tersebut batal demi hukum.

b. Identitas para pihak

Didalam putusan harus di muat identitas dari para pihak : nama, umur, alamat, dan nama dari pengacaranya ( kalau ada ).

c. Pertimbangan / considerans

Pertimbangan merupakan dasar putusan, terdiri atas: pertimbangan tentang kejadiannya yaitu merupakan penjelasan duduk perkaranya, dan pertimbangan tentang hukum yaitu uraian tentang adanya hak atau hubungan hukum yang menjadi dasar yuridis dari pada tuntutan.

Setiap putusan harus memuat ringkasan yang jelas dari: tuntutan dan jawaban; alas an dan dasar dari pada putusan;pasal-pasal serta hukum tidak tertulis;pokok perkara;erta hadir tidaknya para pihak pada waktu putusan di ucapkan oleh hakim.

d. Amar ( dictum )

yang merupakan jawaban terhadap petitum adalah amar.Amar harus lengkap artinya amar tersebutlah yang menentukan apakah putusan tersebut dapat dilaksanakan atau tidak.

Amar (dictum) dibagi menjadi apa yang disebut Declaratif & apa yang disebut dictum atau dispositif.

Bagian yang disebut declarative merupakan penetapan dari pada hubungan hukum yang menjadi sengketa.Sedangkan bagian yang disebut dispositif yaitu yang menentukan hukumnya yang mengabulkan atau menolak Gu.

 

B. JENIS-JENIS PUTUSAN

Ada 2 golongan putusan yaitu:

  1. Putusan bukan akhir yaitu putusan yang diambil sebelum hakim memutus          parkaranya ,missal: putusan sela terhadap eksepsi tentang kekuasaan hakim harus diambil dan diucapkan terlebih dahulu sebelum diteruskan memeriksa pokok perkara.
  2. Putusan akhir yaitu putusan yang diambil setelah melalui seluruh proses persidangan.

Putusan akhir terdiri atas :

  1. putusan komdenatoiryaitu putusan yang bersifat menghukum pihak yang kalah untuk memenuhi prestasi ( mangandung sengketa ).
  2. Putusan declaratoir yaitu putusan yang amarnya menyatakan  suatu keadaan sebagai keadaan yang sah menurut hukum.
  3. Putusan konsitutif yaitu putusan yang amarnya menciptakan suatu keadaan baru.

Misalnya : menyatakan pemohon sebagai orang yang jatuh pailit.

C. UPAYA HUKUM TERHADAP PUTUSAN

Suatuputusan hakim ada kemungkinan tidak memuaskan —— jika salah sau pihak tidak puas terhadap putusan hakim, maka yang bersangkutan dapat mengajukan upaya-upaya hukum

  1. upaya hukum biasa —— perlawanan ( verzet ), banding, dan kasasi.
  2. Upaya hukum luar biasa —— peninjauan kembali (PK) & perlawanan dari pihak ketiga (dendenverset)

 

Asas neb is in idem

Suatu perkara yang telah diputus & putusannya telah in krach van gewijsde maka tidak dapat diulangi pemeriksaannya.

Konsekuensi in kracht van gewijsde ad. Tidak dapat lagi dilakukan upaya hukum    biasa namun masih dapat menempuh UH luar biasa.

 

Setiap putusan mempunyai kekuatan hukum yang tetap ( in kracht van gewijsde)  apabila :

  1. tidak menggunakan/menempuh UH biasa (menerima putusan)
  2. menempuh UH biasa namun telah lewat waktu
  3. menempuh UH biasa hingga tahap akhir (kasasi)/ tidak ada lagi UH biasa yang tersedia.

 

Ada 4 putusan yg tergolong in kracht van gewijsde :

  1. putusan perdamaian
  2. putusan pengadilan tk. pertama yg tidak lagi di mintakan banding
  3. putusan pengadilan tingkat tinggi yg tidak lagi di mintakan banding
  4. semua putusan MA

 

Res judicata proveri tate habe tur secara harfiah di artikan :

Setiap putusan pengadilan mangikat dan sah sebelum dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi

 

UH biasa pada asasnya terbuka untuk setiap putusan selama tenggang waktu yang ditentukan oleh UU . Wewenang untuk menggunakannya hapus dengan menerima putusan

UH biasa bersifat menghentikan pelaksanaan putusan untuk sementara

UH luar biasa bersifat tidak menghentikan /menangguhkan pelaksanaan putusan

 

 

BANDING

 

Upaya hukum banding diadakan dengan dasar bahwa putusan pengadilan tingkat pertama  belum tentu benar karena hakim sebagai manusia biasa dapat berbuat salah dalam menjatuhkan putusan dan oleh karena itu perlu dimungkinkan pemeriksaan ulang olek pengadilam tinggi.

Apabila salah satu pihak tidak menerima atau tidak puas atas putusan pengadilan tingkat pertama karma menganggsp putusan tersebut tidak adil maka ia dapat mengajukakan permohonan banding.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s